Cerita Petani Kopi Sarongge Manfaatkan Perhutanan Sosial

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Dudu Duroni, pimpinan kelompok tani Satria Mandiri merasa bersyukur bisa mendapat izin untuk mengelola perhutanan sosial selama 35 tahun. Sebelumnya, petani kopi sarongge sempat mengadu nasib di lereng gunung pada 2013 lalu.

Ia bersama petani lainnya kemudian turun gunung, karena ada reforestasi. Ia sempat sewa tanah di Bogor setelah turun dari taman nasional. Tapi rugi. Sekarang diselamatkan oleh kebijakan pemerintah tentang perhutanan sosial.

“Di sini kebun kami yang terakhir. Tidak akan pindah lagi,”kata Dudu yang saat ini menggarap kebun kopi di atas lahan Perhutanan di Kampung Tunggilis, Desa Ciputri, Kecamatan Pacet, Cianjur.

Loading...

Lebih jauh diceritakan Dudu, ia bersama sejawat lain mulai menanam kopi di kaki Gunung Geulis, akhir 2015. Tetapi izin perhutanan sosial baru mereka ajukan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Februari 2018.

Setelah melalui verifikasi administrasi, pemeriksaan lapangan dan diskusi dengan Perhutani, disepakati Perhutanan Sosial model Kulin KK.

Sebanyak 35 keluarga tani diberi izin untuk menggarap area seluas 21,5 ha. Izin berlaku sampai tahun 2053. Izin itu tertuang dalam SK Mentri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : SK.4051/MENLHK/PKPS/PSL.0/6/2018.

Karena kepastian hukum itu, petani lebih tenang menggarap tanahnya. Selain menanam kopi, mereka juga tanam pohon keras seperti : kayu manis, pohon alpukat, nangka. Pohon besar itu, selain untuk pelindung kopi, juga bermanfaat untuk konservasi.

Agar fungsi hutan Gunung Geulis sebagai area tangkapan air, tetap terjaga. Dalam kerja sama Kulin KK, petani berkewajiban menjaga hutan untuk konservasi. Fungsi itu dijalankan dengan supervisi Perhutani.

 

 

Hutan Lestari, Petani sejahtera

Untuk areal seluas itu, setidaknya petani dapat menanam 43.000 batang kopi. Pada saat optimum panen nanti, tiap pohon dapat menghasilkan 5 kg buah kopi. Dan dengan harga jual per kg basah, Rp 8.000,-, pendapatan kelompok tani ini per tahun akan mencapai Rp 1,72 milyar.

Ditambah dengan penghasilan dari alpukat, kayu manis dan nangka, hasil produksi petani dalam kelompok perhutanan sosial ini dapat mencapai Rp 2 milyar/tahun. Atau kalau dihitung rerata per keluarga, sekitar Rp 60 juta per keluarga/tahun. Atau Rp 5 juta/keluarga.bulan.

“Terimakasih pemerintah sudah memberikan kami izin berkebun,” kata Mustofa, pensiunan guru SD yang sudah lama aktif bertani. Dia penasehat kelompok tani Satria Mandiri. Ia berjanji akan merawat hutan biar lestari. Sembari mengembangkan talun, atau agroforestry.

Untuk kopi, petani menanam berbagai varietas arabica, seperti : Lini S, Sigararutang, Typica dan Andungsari. Sebagian ada juga yang menanam robusta. Petani di lereng Gn Geulis ini sudah terbiasa memetik merah untuk kopi yang mereka panen.

Hasilnya diolah menjadi Kopi Sarongge dan dipasarkan melalui online dan berbagai reselller. Produk itu, misalnya dapat dibeli di Istana Cipanas, Rumah makan Amen, warung sate Shinta. Juga di Info Cianjur dan Cianjur TV. Juga di jaringan Toserba Selamat.

Kopi Sarongge mempunyai rasa khas. Asam lembut, segar buah dan sedikit manis di ujungnya. Karena kebunnya yang berkelindan dengan hutan, kopi Sarongge menyebutnya, “cita rasa dari hutan yang terjaga”.

Kopi berkualitas ini hanya dimungkinkan karena kebijakan perhutanan sosial yang digalakkan Presiden Jokowi.

Dukungan Perhutani pada program perhutanan sosial, akan mendorong berkembangnya ekonomi lokal di desa-desa dekat hutan. Bukan hanya untuk kopi, tapi juga komoditas lain yang cocok dengan tanah dan iklim setempat.

Dalam syukuran kali ini, hadir juga petani dari Kuningan, Tasikmalaya, Bogor, dll mereka sedang mengurus Kulin KK di tempat masing-masing.***

 

Laporan : Bambang S
Editor : Adri Akbar

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here