Pemerintah Turunkan Tarif Batas Atas Tiket Pesawat Hingga 16%

Menko Perekonomian Darmin Nasution memimpin rapat evaluasi harga tiket pesawat di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/5/2019) siang. (Foto: Humas Kemenko Perekonomian)

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Pemerintah menggelar Rapat Koordinasi Pembahasan Tindak Lanjut Tarif Angkatan Udara, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/5/2019). Rapat ini menetapkan tarif batas atas tiket pesawat turun antara 12% hingga 16%.

Dilansir dari setkab.go.id, penurunan tarif ini berlaku mulai 15 Mei 2019, dan akan dilakukan pada rute-rute gemuk seperti rute di daerah Jawa. Sedangkan penurunan lainnya dilakukan pada rute-rute seperti rute penerbangan ke Jayapura.

“Hal ini dilakukan pemerintah, bukan hanya memperhatikan pihak maskapai, tetapi juga konsumen sebagai masyarakat,” kata Menko Perekonomian, Darmin Nasution.

Loading...

Pemerintah, lanjut Darmin, mencatat adanya kenaikan tarif pesawat oleh perusahaan maskapai penerbangan dalam negeri sejak akhir Desember 2018 dan tarif ini tidak kunjung turun setelah 10 Januari 2019. Dampak kenaikan tarif tiket pesawat ini dirasakan langsung oleh masyarakat terutama menjelang musim Lebaran.

Menurut Darmin, Tarif Batas Atas Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri atau Tarif Batas Atas sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Perhubungan No. KM 72 Tahun 2019 tidak berubah secara signifikan sejak tahun 2014 dan merupakan salah satu penyebab tarif pesawat tidak kunjung turun.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar pesawat terbang atau avtur juga menjadi penyebab naiknya tarif tiket pesawat. Darmin mencatat pada akhir Desember 2018, harga avtur menyentuh 86,29 dollar AS per barel, yang merupakan nominal tertinggi sejak Desember 2014.

“Jadi hal ini berdampak pada peningkatan beban operasional perusahaan maskapai penerbangan sehingga perlu dikompensasi dengan peningkatan tarif pesawat,” ujarnya.

Darmin juga menilai perlunya sinergi antara Kementerian, Lembaga dan Badan Usaha terkait untuk terus mendukung evaluasi industri penerbangan nasional secara berkala sehingga potensi masalah atau isu dapat senantiasa diidentifikasi lebih awal.

“Dengan demikian, kondisi industri penerbangan, khususnya pada pelayanan penumpang udara, dapat berjalan dengan lebih baik dan stabil,” tuturnya.

Editor Rinai BK

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here