Hadirkan Wantimpres, Yayasan Putera Nasional Indonesia Diskusi Soal Revitalisasi Perbankan

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Yayasan Putera Nasional Indonesia (YPNI)
mengadakan diskusi publik bertajuk Revitalisasi Perbankan Nasional
pasca Pemilihan Umum 2019 di Gedung Juang 45, Menteng, Jakarta,
Kamis (23/5/2019).

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi tersebut Dewan Pertimbangan
Presiden (Wantimpres) Sri Adiningsih, Wakil Rektor Universitas
Padjajaran Keri Lestari, Bankir Ahmad Irvan, dan Praktisi Perbankan
Elvi Diana sebagai moderator.

Di dalam diskusi, Elvi menilai kebijakan perbankan Indonesia selama
ini sudah searah dengan visi misi Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Menurutnya, revitalisasi perbankan harus didorong walau pun
sebenarnya revitalisasi itu sudah berjalan terlebih lagi Indonesia
saat ini sedang menuju revolusi industri 4.0

Loading...

Faktanya, tutur Elvi, baru 50 persen masyarakat yang benar-benar
kenal dengan perbankan dan mengakses perbankan.

“50 persen masyarakat lainnya ini bukan tidak mengetahui perbankan
tapi karena mereka gagap teknologi, atau belum siap dengan
revitalisasi perbankan seperti digitalisasi,” jelasnya.

Terkait digitalisasi, Elvi menilai beberapa jenis layanan perbankan
sudah sangat baik. Misalnya internet banking, mobile banking,
sampai fasilitas lainnya online. Bahkan sekarang untuk kredit sudah
ada online namun persyaratannya tetap manual.

“Masyarakat sebenarnya sudah menjalankan aktivitas perbankan itu
sendiri. Maka harus disiapkan SDM nya, instrumen teknologinya,
produsennya, kebijakannya, usernya siapa, termasuk soal
regulasinya. Semua harus disediakan dalam revitalisasi perbankan,”
jelas Elvi.

Senada dengan hal tersebut, Watimpres Sri Adiningsih mengatakan
Indonesia harus memiliki talenta digital yang berkarakter untuk
menghadapi transformasi di era revolusi industri 4.0.

“Pembangunan karakter amat vital. Kemajuan teknologi informasi juga
terbukti telah mempengaruhi sikap dan gaya hidup manusia,” ujar
Sri.

Walau begitu, Sri menegaskan bahwa kemajuan digital seperti
Internet of Things (IoT), smart city, big data dan artificial
intelligence (AI) jangan sampai membuat anak bangsa kehilangan
pegangan seperti integritas.

“Manusia itu dibangun bukan sebagai tenaga kerja saja, bukan skill
saja, bukan kualitas saja, tapi manusia berkarakter dan berbudaya,”
katanya.

Sri mencontohkan Jepang yang mengembangkan konsep Society 5.0
membangun manusia yang maju, melek teknologi dan hidup serba
digital, tapi tetap memegang budaya terutama integritas.

“Jepang punya skill luar biasa di bidang teknologi digital hingga
penerapan AI ke mesin-mesin, tapi kemajuan teknologi tidak membuat
mereka dikenal jahat, mencuri, hacking, menyerang orang dan
sebagainya. Justru teknologi mereka membantu banyak manusia,”
demikian tutur Sri.

Laporan Bambang S
Editor Rinai BK

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here