Alamak, KPK “Cuma” Nunggu Itikad Baik Sjamsul Nursalim Dalam Kasus BLBI

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Hingga kini, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim dan Itjih S Nursalim belum memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan hingga kini pula KPK cuma nunggu itikadi baik kedua orang tersebut terkait kasus BLBI.
Febri Diansyah Jubir KPK

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Hingga kini, pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim dan Itjih S Nursalim belum memenuhi panggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Dan hingga kini pula KPK cuma nunggu itikadi baik kedua orang tersebut terkait kasus BLBI.

Diungkapkan oleh Febri Diansyah Jubir KPK yang dilansir oleh Antara News, pihaknya masidh nunggu informasi dari pihak Sjamsul untuk memenuhi panggilan tersebut. “Sampai Selasa siang ini belum ada informasi pihak Sjamsul terkait dengan keinginan untuk menghadiri permintaan keterangan di kasus BLBI,” kata Febri Diansyah di Jakarta, sebagaimana dimuat oleh Antara News Selasa (9/10/2018).

KPK memanggil Sjamsul dan istrinya Itjih untuk dimintai keterangan terkait kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Loading...

Saat ini, Sjamsul dan Itjih berada di Singapura.

“Jika nanti tidak hadir, KPK akan memanggil kembali. Perlu dipahami, KPK justru sedang memberikan ruang untuk Sjamsul Nursalim dan istri untuk memberikan keterangan yang benar menurut mereka,” ucap Febri.

Febri menyatakan bahwa pengembangan kasus BLBI terus dilakukan sebagai upaya KPK mengembalikan semaksimal mungkin pada negara dugaan kerugian negara Rp4,58 triliun.

Saat ini, dalam proses pengembangan penanganan perkara BLBI sekitar 26 orang telah dimintakan keterangan dari unsur Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK), dan swasta.

Sebelumnya, mantan Ketua BPPN Syafruddin Arsyad Temenggung telah divonis 13 tahun penjara ditambah denda Rp700 juta subsider 3 bulan kurungan karena terbukti melakukan penghapusan piutang Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) yang dimiliki Sjamsul Nursalim sehingga merugikan keuangan negara hingga Rp4,58 triliun.

Dalam putusan, Syafruddin disebut terbukti melakukan korupsi bersama dengan pihak lain, yaitu Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim.

Editor Rikmal Hadi
sumber antaranews.com

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here