Dalam Sehari 50 Orang Tewas Akibat Narkoba

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Jumlah pengguna narkoba terus bertambah setiap harinya. Hingga kini tercatat ada sekitar 6 juta orang pengguna narkoba se-Indonesia. Meski Pemerintah sudah menyatakan darurat narkoba, hal itu belum bisa mengurangi jumlah pengguna narkoba. Karena Pemerintah sendiri hanya sanggup merehabilitasi 100 ribu pengguna setiap tahunnya.

Demikian disampaikan Direktur Interzone Treatment Center, Fardinand Rabain kepada bukamata.co, Selasa (31/7/2018). Data yang diperoleh pihaknya, setiap hari ada 50 orang tewas akibat menggunakan barang haram tersebut. Realitasnya, pemerintah hanya mampu merealisasikan 38 persen di tahun 2015 dan 4 persen di tahun 2016.

Untuk menuntaskan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) itu, Fardinand mengajak Gerakan Nasional Anti Narkoba (Ganas Annar) Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk menyelenggarakan penanggulangan narkoba berbasis masjid.

Loading...

Menurut dia, masjid menjadi solusi alternatif untuk melakukan rehabilitasi secara terbuka. Partisipasi dan kepedulian masyarakat menjadi keniscayaan agar pengguna narkoba berhenti dari perbuatannya

“Di hadapan Raja Salman, Pak JK (Jusuf Kalla) menyatakan ada 800 ribu masjid di Indonesia. Jika 1 masjid, 1 penyuluh, maka 8 kali lipat keinginan Presiden dapat kita penuhi. Cukup 20 persen masjid yang begerak, persoalan (narkoba) ini Insya Allah akan selesai,” ujar Fardinand.

Ia mengungkapkan, dari 6 juta pengguna narkoba di Indonesia, panti rehabilitasi hanya mampu menampung 600 ribu korban narkoba. Angka tersebut belum termasuk mahalnya biaya rumah sakit. Seperti harga 1 kamar inap senilai 4 juta, kebutuhan obat 6 juta dan anestesi (obat bius) kisaran 70 juta.

“Biaya semahal itu pun hanya menghilangkan sakau-nya. Maka, dibutuhkan 327 tahun atau 65 presiden lagi untuk meyelesaikan masalah narkoba. Belum lagi jika setiap tahun angkanya meningkat,” katanya.

Fardinan berharap MUI dapat mengomandoi umat Islam serta Ormas-Ormas Islam seluruh Indonesia untuk sama-sama bergerak menjadikan masjid sebagai pusat rehabilitasi pengguna narkoba.

“Saya harapkan MUI dapat menggerakkan seluruh Ormas Islam dalam antisipasi narkoba. Walau bagaimana pun, yang terdampak adalah umat Islam. Karena muslim di Indonesia mayoritas,” tandasnya.

Senada dengannya, Sekretaris Umum Ganas Annar MUI Rofiq Ahmad mengatakan, berbeda dengan terorisme, narkoba bergerak secara perlahan dan mengakibatkan sekitar 50 orang meninggal setiap harinya.

“Kami telah membentuk relawan tingkat nasional anti narkoba, agar ketika mereka ceramah juga menyinggung bahaya narkoba kepada jamaahnya,” katanya.

Anggota Komisi Fatwa MUI Pusat Ustaz Shodiqun menuturkan, ikhtiar yang dilakukan Interzone Treatment Center merupakan jihad untuk memberantas narkoba. Menurut dia, dalam paradigma Islam, suatu perjuangan terletak pada hasil, bukan siapa yang melakukan.

“Bukan karena pernyataan Presiden (Indonesia Darurat Narkoba), tetapi penanganan narkoba merupakan tanggung jawab kita dalam konteks keummatan dan kebangsaan,” ujarnya.

Shodiqun menjelaskan, metodologi yang ditawarkan Fardinan merupakan metodologi yang sangat sederhana. Karenanya, ke depan ia ingin Ganas Annar berbasis Pesantren.

“Kalau kita bicara 800 ribu masjid, maka bukan berbicara masjidnya, tetapi sumber daya manusia yang akan menopang kerja-kerja penanganan narkoba berbasis masjid. Insya Allah, materi ini akan kita sampaikan pada rapat kerja Ganas Annar seluruh Indonesia,” tutupnya.***

 

Laporan : Bambang S
Editor : Adri Akbar

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here