Teguh Santosa: Indonesia Pernah Jadi Pelopor Asia, Sekarang Jauh Tertinggal

Teguh Santosa saat dialog di Radio Digital Bravos, Jakarta, Rabu (10/4/2019).

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Teguh Santosa, seorang pengamat hubungan internasional yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta mengungkapkan peluang Indonesia sebagai kekuatan alternatif (alternative power) politik dunia. Hal ini disampaikannya dalam dialog di Radio Digital Bravos, Jakarta, Rabu (10/4/2019).

Teguh mengatakan modal yang dimiliki Indonesia cukup besar, terlebih lagi ia menganggap dunia masih mengingat warisan Bung Karno dan diplomat-diplomat senior Indonesia di masa lalu pasca Perang Dunia Kedua.

“Indonesia pernah menjadi pioneer dan front-liner kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Legacy ini masih diingat dunia,” kata Teguh.

Loading...

Namun, ia melanjutkan, untuk menjadi alternative power Indonesia harus memiliki kebijakan luar negeri yang mampu membuat negara-negara lain menghormati Indonesia dalam arti yang sesungguhnya, bukan sekadar menghormati secara formalitas dan protokoler.

Teguh mencontohkan soal dinamika di dunia internasional seiring dengan kemunculan Republik Rakyat China (RRC) yang dianggap oleh Amerika Serikat sebagai penantang dominasi mereka di berbagai kawasan.

“Dalam setting baru ini kita bisa, pertama, mengamankan kepentingan nasional. Kedua, ikut menentukan agenda-agenda internasional yang penting dan yang sejalan dengan kepentingan nasional kita,” ujarnya dalam dialog yang dipandu Budhie Soenarso itu.

Teguh juga mencontohkan kasus pembangunan pelabuhan di selatan Sri Lanka yang karena merugi akhirnya kini dikuasai oleh China. Malaysia saat pemerintahan Mahathir Mohamad mengkritisi infiltrasi ekonomi China yang terjadi selama era Muhammad Najib. Di Filipina, Presiden Rodrigo Duterte mulai mereview kebijakan luar negerinya setelah melihat agresivitas China.

Selain itu Vietnam juga merevisi kebijakannya terhadap AS. Walau pernah memiliki masa lalu yang pahit, kini hubungan kedua negara itu semakin baik karena mereka sedang menghadapi lawan yang sama.

Teguh memaparkan penilaiannya mengenai agresivitas China memecah negara-negara di kawasan Asia Tenggara.

“Negara-negara yang bersengketa dengan China di perairan Laut China Selatan (LCS) dihadapi China. Tetapi yang tidak berhadapan dengan China di LCS menjadi teman mereka,” kata Teguh.

Untuk itu, lanjutnya, walaupun Indonesia tidak menjadi salah satu claimant state di Laut China Selatan, namun Indonesia tetap harus ekstra hati-hati menghadapi manuver China.

“Sistem politik di suatu negara mempengaruhi karakter negara itu ketika berinteraksi dengan negara lain. China adalah negara satu partai. Sehingga apapun yang datang dari China merupakan entitas negara itu. Berbeda dengan kita yang memiliki state actor dan non state actors, private sectors,” jelasnya.

Teguh juga mengingatkan perlunya Indonesia menjaga wilayah di ujung-ujung Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) 1, ALKI 2 dan ALKI 3, dan harus memastikan kawasan-kawasan itu steril dari kehadiran pihak asing.

Teguh menegaskan bahwa hal yang ia sampaikan bukan berarti Indonesia harus menutup diri dalam berinteraksi dan menjalin persahabatan dengan negara lain.

“Tetapi ini adalah soal menjaga kepentingan nasional. Kita harus melindungi kepentingan nasional kita, baru setelah itu berinteraksi dengan negara manapun dengan dignity (harga diri),” kata alumni University of Hawaii at Manoa ini.

Teguh juga menyoroti posisi Indonesia di ASEAN yang menurutnya sudah tertinggal dibandingkan beberapa negara sahabat.

“Singapura dan Malaysia sudah lebih dahulu meninggalkan Indonesia bahkan telah menjadi world class players,” katanya.

Bahkan, kata Teguh, Thailand dan Vietnam yang beberapa tahun lalu masih bisa diimbangi Indonesia, belakangan ini justru sudah memperlihatkan tanda-tanda melampaui Indonesia.

“Karena itu, kembali ke gagasan menjadi alternative power. Penting bagi Indonesia untuk menciptakan branding baru yang lebih kokoh dan tidak sekadar pencitraan,” tuturnya.

Teguh mengungkapkan National branding ini berangkat dari slogan yang dapat diimplementasilan untuk memperkuat pondasi ekonomi dan sosial, menciptakan gelombang industrialisasi yang dibutuhkan untuk menyerap tenaga kerja dalam jumlah banyak, memajukan sektor pendidikan, serta menjamin kepastian hukum dan keadilan.

“Sehingga tidak ada alasan bagi negara lain memandang remeh dan lemah bangsa ini,” tutup Teguh.

Editor Rinai BK

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here