Islah Centre Duga Negara Asing Ikut Campur dalam Penyebaran Hoaks di Indonesia

Jokowi dan Prabowo dipeluk atlet ASEAN GAMES beberapa waktu yang lalu (foto: istimewa).

BUKAMATA.CO – The Islah Centre, lembaga yang fokus dalam rekonsiliasi konflik dan terorisme, menilai stagnansi komunikasi antarelit politik, tokoh dan ulama pendukung Pasangan Calon (Paslon) Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01 dan 02 harus segera dicairkan.

Jika perpecahan kedua kubu ini terus dibiarkan, The Islah Centre menilai hal itu bisa merusak tatanan moral dan tatanan sosial dalam berbangsa dan bernegara, di samping membuat masyarakat saling curiga dan saling tidak percaya satu sama lain.

Saling klaim kemenangan antara BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo-Sandi dan TKN (Tim Kampanye Nasional) Joko Widodo-KH Maruf Amin juga membuat hasil Pilpres seperti bola liar. Tim sukses kedua belah pihak ikut membuat suasana makin panas dengan menyebarkan informasi yang belum tentu benar dan kadang mengandung unsur hasutan (provokatif). Ditambah lagi masifnya penyebaran hoaks yang tidak terbendung.

Loading...

“Yang lebih parah dari itu, bisa saja menimbulkan konflik sosial di tengah masyarakat dan menghancurkan tatanan kebangsaan yang selama ini sudah sama-sama kita rawat,” ungkap Mujahidin Nur, Direktur The Islah Centre, dalam keterangan yang diterima bukamata.co, Selasa (30/4/2019).

Mujahidin menduga, masifnya penyebaran hoaks baik pra mau pun pasca Pilpres di Indonesia karena ada pihak ketiga dari negara tertentu yang bermain.

“Mereka ingin mencerai-beraikan persatuan, mengadu domba dan membuat rakyat Indonesia terus berpolemik dan berkonflik,” kata Mujahidin.

Ia menjelaskan, dalam peperangan gaya baru atau biasa dikenal dengan perang asimetris, negara-negara tertentu yang ingin menghancurkan Indonesia bisa saja memakai hoaks agar masyarakat Indonesia saling mencurigai dan menghasut satu sama lain, sehingga terjadi konflik internal sesama anak bangsa.

Untuk itu, Mujahidin menghimbau agar masyarakat memfilter terlebih dahulu setiap berita atau informasi yang diterima, karena peran media sosial sebagai alat penyebaran opini negatif dan hoaks sangat membahayakan.

“Untuk menghancurkan persatuan kita negara-negara tertentu yang tidak suka kita bersatu bisa saja menggelontorkan cash for fakes yang besar, mereka mendanai penyebaran hoaks, kegiatan penyamaran menjadi grass root paslon presiden 01 dan 02, menyembunyikan identitas asli mereka, dan setiap hari memproduksi fitnah dan kebohongan dengan ribuan email dan account media sosial palsu yang mereka buat untuk menciptakan apa yang disebut social media mayhem (kekacauan sosial media) untuk membenturkan pendukung Capres 01 dan 02. Ini saya duga juga mereka lakukan di Indonesia,” jelasnya.

Karenanya, Mujahidin meminta kubu 01 dan 02 untuk secepatnya melakukan rekonsiliasi dan mencairkan tensi politik yang memanas dan tidak sehat ini.

“Maksud rekonsiliasi di sini adalah memulihkan hubungan menjadi kembali normal antara kedua pasang kandidat, tim sukses, simpatisan dan masyarakat luas setelah proses politik yang membelah masyarakat beberapa bulan terakhir,” tuturnya.

Mujahidin menilai jika fragmentasi masyarakat karena perbedaan dukungan politik ini tidak secepatnya diselesaikan, efeknya pemerintah akan terhambat dalam menyelesaikan agenda-agenda strategis bangsa.

“Kelompok radikal juga bisa saja menarik semaksimal mungkin masyarakat yang mempunyai kemiripan ideologi dengan mereka dan tidak puas dengan hasil demokrasi untuk digerakkan demi tujuan mereka. Di samping itu, kelompok radikal juga akan terus menjaga “luka demokrasi” untuk membangun fondasi ideologi dan fondasi konflik berkepanjangan antara masyarakat dengan pemerintah,” katanya.

Mujahidin mengaku khawatir hal yang menimpa negara-negara Arab dalam Arab Springs yang menyebabkan kehancuran dunia Islam akan terjadi di Indonesia jika keadaan pasca Pilpres Indonesia saat ini tidak segera di antisipasi.

Editor Rinai BK

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here