Polisi Harus Lebih Tegas Tindak Penyebar Hoaks Soal Penculikan Anak di Masyarakat

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pihak kepolisian untuk menindak lebih tegas pelaku hoax soal penculikan anak yang meresahkan masyarakat. Demi memberikan jamiman keamanan dan kenyamanan anak Indonesia terjaga dengan baik, tanpa kekhawatiran dan ketakutan.
Susanto (tengah) bersama Kadiv Humas Mabes Polri, dan Kabiro Humas Kementerian Komunikasi dan Informatika saat melakukan Konferensi Pers di kantornya Jakarta Pusat Jumat (2/11/2018)

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta pihak kepolisian untuk menindak lebih tegas pelaku hoax soal penculikan anak yang meresahkan masyarakat. Demi memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan anak Indonesia terjaga dengan baik, tanpa kekhawatiran dan ketakutan.

“Pemberitaan bohong atau hoaks memberikan dampak psikologis yang besar. Orang tua yang memiliki anak pada satuan pendidikan dibuat panik hingga rela menunggui anak sekolah setiap hari” kata Susanto Ketua KPAI kepada bukamata.co Jumat (2/11/2018) di kantornya Menteng Jakarta Pusat saat jumpa pers menyikapi maraknya berita bohong soal penculikan anak.

Beberapa orang tua kata Susanto, bahkan sering ribut di grup media daring seperti apilkasi Whatsapp (WA) karena kekhawatiran yang berlebihan. Hal tersebut menimbulkan pengawasan yang berlebihan orang tua dengan mengintimidasi, membentak, menekan, memaksa, dan mengatur secara ketat aktivitas keseharian anak atas nama ketakutan akan penculikan.

Loading...

“Kondisi ini akan menimbulkan kegelisahan dan pembatasan yang ketat kepada anak dalam menjalankan aktivitas. Sehingga sosialisasi dan kehidupan tumbuh kembangnya tidak berjalan secara wajar” ujarnya.

Menyikapi kondisi tersebut, Susanto juga mengajak agar Dinas Pendididikan dan Kantor Kementerian Agama di seluruh Indonesia untuk memastikan kerjasama antara sekolah/madrasah dengan orangtua peserta didik berjalan dengan baik.

“Sehingga isu dan berita penculikan tidak meresahkan orangtua dan anak” ujarnya.

Pihak sekolah sarannya lagi tetap meningkatkan kewaspadaan, memberikan literasi yang tepat kepada orangtua agar melakukan pengasuhan terbaik dan tidak membuat anak dalam kondisi ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan.

“Dalam situasi seperti ini, orang tua tetap perlu berpikir bijak dan jernih agar kekhawatirannya tidak berlebihan dan berdampak pada tumbuh kembang anak. Rasa kekhawatiran yang berlebihan akan mengurangi kepercayaan diri anak bersosialisasi” kata Susanto.

Orang tua juga katanya tetap perlu mengedukasi anak dengan baik terkait tindakan penculikan yang sesuai dengan usia tumbuh kembangnya.

Serta menanamkan kepada anak agar tidak mau diajak orang yang tidak dikenal, ditawari atau diiming-imingi benda apapun, serta tidak serta merta mau diajak oleh orang yang mengatasnamakan orang tuanya.

“Begitu juga ketika di jalan ada tindakan yang mencurigakan, maka anak dapat meminta pertolongan orang di sekitarnya termasuk berteriak ketika dalam keadaan darurat. Orang tua perlu juga mengenalkan rute aman sekolah, baik ketika berangkat maupun pulang, sehingga anak dapat tetap mandiri namun aman” urai Susanto.

Namun demikian lanjut Susanto, kekhawatiran berlebihan dan justru mengintimidasi anak adalah tindakan yang tidak tepat. “Kewaspadaan perlu diikuti dengan edukasi serta kontrol yang baik dari orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat” tutupnya.

Editor Rikmal Hadi
Laporan Wilson Petrus Napitupulu

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here