Awal 2024, Presiden RI Akan Berkantor di Kaltim

Hirmawan Hariyoga, Ketua Tim Komunikasi IKN saat berbicara dalam Forum Tematik Bakohumas, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (1/10) pagi. (Foto: Humas Setkab)
Hirmawan Hariyoga, Ketua Tim Komunikasi IKN saat berbicara dalam Forum Tematik Bakohumas, di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Selasa (1/10) pagi. (Foto: Humas Setkab)

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Rencana pemindahan ibu kota RI ke Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) persisnya di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Kabupaten Paser Penajam Utara, akan jadi Pekerjaan Rumah (PR) besar. Pasalnya diawal tahun 2024, Presiden RI akan mulai berkantor di Pulau Kalimantan tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Ketua Tim Komunikasi Ibu kota Negara (IKN)/Sekretaris Menteri PPN/Bappenas Hirmawan Hariyoga Djojokusumo dalam paparannya pada acara Forum Tematik Bakohumas, yang mengangkat tema “Urgensi Pemindahan Ibu kota Negara,” di ruang rapat Kementerian PPN/Bappenas, Jl. Taman Suropati No. 2, Jakarta, Selasa (1/10) pagi.

Dia pada kesempatan itu sebagaimana dilansir oleh setkab.go.id, mengatakan bahwa rencana pemindahan ibu kota negara, dari Jakarta ke wilayah antara Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Kabupaten Paser Penajam Utara, Provinsi Kalimantan Timur, bukanlah sebuah rencana yang ‘ujug-ujug’ atau tiba-tiba. Tetapi sudah dilakukan kajian sejak tahun 2017.

Loading...

Karena kata dia, banyak pihak yang terlibat dalam melakukan kajian pemindahan ibu kota negara tersebut diantaranya, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Selain itu juga bekerja sama dengan Kementerian PUPR, Kementerian ATR/BPN, Kementerian LHK, Badan Geologi, Kementerian ESDM, dan Badan Informasi Geospasial (BIG).

“Prosesnya lumayan panjang, sampai akhirnya Presiden memindahkan Jakarta ke Kalimantan Timur,” kata Hirmawan.

Dan kata dia lagi, dilakukan beberapa tahapan dimana pada tahap awal, jelas Ketua Tim Komunikasi IKN itu, kajian mencakup kemungkinan kalau ibu kota tetap di Pulau Jawa. Ada satu distrik yang isinya Government District., lanjut Hirmawan, referensinya ada di beberapa negara maju.

Kemudian pada alternatif kedua, pindah ke sekitar Jakarta, seperti di Jonggol, atau alternatif lainnya di Kota Maja, contohnya Putrajaya, Malaysia.

“Itu pun bukan solusi terbaik, antara lain daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) dan lingkungan, di Jakarta pada khususnya dan Jawa pada umumnya. Kondisinya suboptimal dalam konteks masalah yang dihadapi Jakarta pada khususnya dan Jawa pada umumnya,” terang Hirmawan.

Dipaparkan Hirmawan, ada 7 kriteria penentuan lokasi ibu kota negara, yaitu: 1. Lokasi strategis; 2. Tersedia lahan luas; 3. Bebas bencana; 4. Tersedia sumber daya air; 5. Dekat dengan kota excisting yang sudah berkembang; 6. Potensi konflik sosial rendah; dan 7. Memenuhi perimeter pertahanan dan keamanan.

Sehingga berdasarkan kriteria tersebut, lalu tersaring 3 lokasi di luar Jawa yang aman dan bebas terhadap risiko bencana gempa bumi, gunung berapi, dan tsunami.

“Kalimantan relatif rendah risikonya. Kalau Sumatra masih bagian barat, tidak di tengah Indonesia,” ungkap Hirmawan seraya menamahkan, ibu kota juga harus memiliki akses dengan perairan laut.

Selain itu Sekretaris Menteri PPN/Bappenas itu menilai, keputusan yang diambil Presiden untuk memindahkan lokasi ibu kota negara di wilayah antara Kabupaten Kutai Kartanegara dengan Kabupaten Paser Penajam Utara, Provinsi Kalimantan Timur sudah berdasar pada kajian teknokratis.

Dalam kesempatan itu, Sekretaris Menteri PPN/Bappenas Hirmawan Hariyoga menyindir pandangan yang disampaikan sejumlah kalangan terhadap posisi ibu kota negara.

“Yang harus dipahami, yang ingin dibuat adalah pusat administrasi pemerintahan,” terang Hirmawan seraya menyindir pandangan seolah-olah mengatakan setelah Jakarta banyak masalah, pemerintah tidak bertanggungjawab dengan pindah ibu kota.

Padahal, tegas Hirmawan, pemerintah sudah melakukan banyak hal untuk Jakarta. Hirmawan menyampaikan, bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) ingin bisa berkantor di lokasi baru ibukota negara RI itu pada 2024. “Ini PR (pekerjaan rumah) besar Kementerian PUPR,” tukasnya.

Rencana Pemindahan Ibu Kota ini, jelas Ketua Tim Komunikasi Ibu Kota Negara, sejalan dengan visi Indonesia 2045 yang menjadikan Indonesia nanti negara maju dan negara berpenghasilan tinggi.

“Saat ini posisi kita negara berpenghasilan menengah ke arah atas. Negara maju itu, negara berpenghasilan tinggi,” kata Hirmawan.

Editor Ady Kuswanto
sumber setkab.go.id

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here