Keberadaan RPTRA Green Bisma di Tengah Komplek Tertutup Bikin Warga Tak Nyaman

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Keamanan dan kenyamanan warga RW 09 Komplek Bisma, Kelurahan Papanggo, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, akhir-akhir ini semakin terusik.

Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Green Bisma yang berada di tengah komplek menyebabkan kawasan yang sebelumnya tertutup menjadi sangat terbuka untuk umum.

Seorang warga komplek, Feriana mengatakan orang yang bebas keluar masuk komplek mengaku ingin bermain di RPTRA. Warga merasa terganggu dan resah karena orang luar yang datang justru bikin suasana tidak kondusif.

Loading...

“Beberapa kali ada rombongan naik metro mini datang ke RPTRA, sopirnya putar musik keras-keras, berisik dan sangat menggangu. Kabarnya Hansip pernah melarang masuk, tapi justru Hansipnya yang kemudian dipanggil Pak Lurah,” ujar Feriana, Sabtu (26/1/2019).

RPTRA Green Bisma berdiri di atas lahan seluas 2.725 M2 di Jalan Bisma 19 Blok C14. Fasilitas untuk warga sekitar itu diresmikan DKI Djarot Saiful Hidayat 17 Oktober 2017.

Keberadaannya di tengah komplek tertutup terkesan dipaksakan karena Pemda kesulitan mencari lahan yang pas untuk memenuhi target saat itu.

Kemudian mulai terdengar desas-desus rencana pembangunan SMP di atas lahan seluas 4.203 M2 yang berada di Jalan Bisma 20 Blok C11, tidak jauh dari lokasi RPTRA Green Bisma.

“Warga bingung kenapa ada SMP mau dibangun karena akses jalan komplek yang tidak memadai dengan lebar sekitar 2,5 -sampai 3 meter saja. Warga juga sudah heboh,” tuturnya.

Feriana berharap Pemprov DKI Jakarta dan jajarannya mengkaji ulang pemanfaatan RPTRA Green Bisma untuk umum dan desas-desus rencana pembangunan SMP di wilayahnya.

Menurut dia Pergub Nomor 40 Tahun 2016 menyatakan pembangunan lahan seperti RPTRA harus mempertimbangkan kenyamanan dan keamanan lingkungan sekitar.

“Apakah ketentuan ini kemudian diabaikan demi realisasi anggaran dan capaian target? Siapa tahu kan,” ucap Feriana.

Feriana enggan memprotes atau menyampaikan aspirasinya kepada Ketua RT, Ketua RW maupun Lurah Papanggo. Alasannya, ia takut jika akhirnya digugat ke pengadilan atau dipolisikan seperti oknum warga lainnya.

“Bukan nggak mau (protes,-red), tapi jujur aja ada rasa takut sih. Soalnya pernah ada warga sini juga yang nuntut transparansi pengelolaan kas RW, tapi malah digugat ke pengadilan dan dilaporkan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik kalau gak salah. Di media juga ada tuh kasusnya,” kata Feriana.

Ketua RW Komplek Bisma Hasan Sunardi tidak bisa ditemui perihal pembangunan RPTRA di dalam komplek. Saat dimintai konfirmasi langsung ke rumahnya, Sabtu (26/1), asisten rumah tangganya mengatakan Hasan tidak bisa diganggu sementara saat dikontak via WhatsApp ia mengaku berada di luar kota.

“Saya karyawannya. Pak RW ada kok, lagi istirahat. Kata siapa lagi ke luar kota? Cuma beliau nggak bisa diganggu, saya juga nggak berani,” ujarnya.

Editor Auzia
Laporan Bambang

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here