Waduh ! SMK Di Batam Sediakan Sel Tahanan dan Siksa Siswanya Yang Tidak Disiplin

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pusat menyampaikan bahwa sebuah lembaga pendidikan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau menyediakan sel tahanan dan model penyiksaan bagi siswanya yang dianggap tidak disiplin.
Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (sumber photo viva.co.id)

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Susanto, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pusat menyampaikan bahwa sebuah lembaga pendidikan di Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau menyediakan sel tahanan dan model penyiksaan bagi siswanya yang dianggap tidak disiplin.

“KPAI dan KPAD Batam menerima laporan mengejutkan terkait adanya siswa yang dimasukan dalam sel tahanan di sebuah SMK swasta di Batam. Dalih penahanan seorang anak diduga atas nama mendisiplinkan karena ada pelanggaran yang dilakukan siswa di sekolah tersebut” kata Susanto melalui rilis pers yang diterima bukamata.co Selasa malam (10/9/2018).

Susanto menerangkan, menurut informasi yang diterima KPAI, lama penahanan tergantung tingkat kesalahan, bahkan ada siswa yang mengalami penahanan lebih dari satu hari.

Loading...

“KPAI juga mendapatkan informasi bahwa hukuman fisik kerap dilakukan di sekolah tersebut atas nama menertibkan siswa. Bahkan kasus terakhir yang dilaporkan ke KPAID Batam, sang siswa yang diduga melakukan pelanggaran berat sampai tangannya diborgol dan mengalami tekanan psikologis karena merasa di permalukan di media sosial” ungkap Susanto.

Selain persoalaan sel tahanan di SMK Batam tersebut, dikatakan Susanto, KPAI juga akan menyampaikan hasil pengawasan atas sejumlah kasus tawuran pelajaran yang kembali menelan korban. Korban AH (15 tahun) yang meninggal akibat tawuran.

Menurut polisi, tewasnya AH yang diserang dengan celurit dan air keras itu bermula dari saling ejek di media sosial” ujarnya.

“Ada 29 orang ditangkap polisi, 10 orang di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Polisi mengungkapkan adanya peran alumnus salah satu sekolah yang bertikai itu sehingga tawuran terjadi” tukas Susanto.

Menurut Susanto, KPAI mencatat, terhitung sejak 23 Agustus 2018 hingga Sabtu (8/9/2018), sedikitnya telah terjadi empat kali tawuran di wilayah berbeda.

Terkait kedua masalah tersebut yang penanganannya perlu melibatkan pihak sekolah, Dinas Pendidikan, Kemdikbud dan pemerintah daerah.

Editor Rikmal Hadi
Laporan Bambang S

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here