Fahri Hamzah Sebut Ada Provokator Pilpres 2019

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengatakan pengunduran massal yang dilakukan dewan pimpinan wilayah (DPW) PKS Bali sebagai bentuk bukti adanya ketidakberesan kepemimpinan Sohibul Iman.
Politisi PKS Fahri Hamzah

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah mengingatkan kepada masyarakat untuk jangan percaya kepada kelompok provokator yang menganggap Indonesia dibawah Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno akan jadi mundur, intoleran dan anti kebhinekaan.

Karena kata dia, orang yang disebutnya provokator itu adalah orang yang sama saat Pilkada DKI Jakarta tahun kemarin.

“Sebab orangnya (yang melakukan provokator) sama saja. Mereka bohong di Ibukota dan mereka mau bohong di seantero negara. Jangan percaya,” kata Fahri Hamzah dalam pesan singkat yang diterima wartawan, Jumat (28/12/2018).

Loading...

Kemudian kata dia lagi, masyarakat, harus optimis dengan pemilu 2019 aman dan damai, dengan tidak terpengaruh oleh provokasi yang justru bisa menjerumuskan negeri ini.

“Mari kita optimis dengan Pilpres 2019. Insya Allah jangan mau dibikin cemas. Pilkada DKI telah membuktikan bahwa bangsa ini waras. Itu saja,” imbuhnya.

Lantas dia pun mengungkap tentang ‘Jualan Ketakutan di 2018’ yang dimainkan oleh satu kelompok, sebagai modus untuk menguasai ingatan dan mood politik publik. Dan, sekarang mood itu dipakai untuk menolak Prabowo setelah gagal mereka pakai untuk menolak Anies Baswedan di Pilkada 2017 lalu.

“Sebagai warga negara kita perlu menetralisir imajinasi dan mood publik. Agar perdebatan pada awal tahun 2019 nanti benar-benar dicerna dengan akal sehat dan tanpa rasa takut. Kita tentu ingin melihat kapasitas pemimpin apa adanya. Jangan besar bayang dari orangnya,” ujarnya mengingatkan.

Dalam Pilkada Jakarta lalu, beber Fahri Hamzah, hampir saja rasa takut menyebar tidak saja di Ibukota. Tapi diseluruh nusantara yang hampir saja perpecahan akibat Pilkada di satu titik menjadi beban seluruh bangsa.

“Di sini saya katakan apresiasi kepada Agus Yudhoyono dan mpok Sylvi di tengah. Dan alhamdulilah, akhirnya pemilu kepala daerah Ibukota berlangsung relatif aman, meski residunya muncul di mana-mana,” cetusnya.

Bahkan residu dari Pilkada DKI tahun lalu itu, dirasakan oleh dirinya saat berkunjung ke Manado. ia dihadang oleh sekelompok orang bersenjata, Ustadz UAS, Ustadz Zul, dan lain-lain juga kena akibat. Padahal, dirinya mau pun ke dua tokoh agama itu semua bukan tim sukses.

“Kita yang bersaudara jadi bersengketa. Padahal kita tidak punya hubungan apapun dengan Pilkada, nyoblos juga nggak. Tapi itulah, rasa takut membuat kita menjadi nggak rasional dan itu target mereka. Mereka nggak mau pemilih itu cerdas, mereka bikin kita gila,” sebut Fahri.

Dalam Pilkada Jakarta, ungkap Fahri, digambarkan seolah-olah kalau Anies-Sandi menang, Ibukota akan jadi tempat bahaya. Jakarta akan penuh intoleransi karena swiping akan ada di mana-mana dan orang berjubah sorban akan melakukan sembarangan melakukan razia.

Bukan itu saja, Pilkada Jakarta juga digambarkan seolah sebagai momen yang sempurna bagi persekongkolan kelompok-kelompok intoleran dan anti kebhinekaan. Di dalamnya ada Prabowo, Anies Baswedan Sandi Uno dan para ulama yang anti NKRI.

“Begitulah kecemasan dipompa jadi komoditi politik. Tapi alhamdulilah , Anies dan Sandi memimpin Ibukota, tidak ada masalah. Kedua pemuda putra bangsa yang cemerlang itu membuat kita bangga, karena mereka punya pergaulan dunia. Wajarlah pada mereka terhambat optimisme bangsa ini,” ucap Anggota DPR RI dari Dapil Nusa Tenggara Barat (NTB) itu. (rls).

Editor Rikmal Hadi
Laporan Bambang S

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here