Ini Kerugian Prabowo Subianto Jika Hadiri Reuni 212 di Monas

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Pernyataan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ((SBY) menyatakan bahwa efek dari pencapresan, partai pengusung tidak kecipratan limpahan suara karena tidak mencalonkan kadernya.
Calon presiden nomer urut 02, Prabowo Subianto, menyampaikan pidato saat berkampanye di Wujil, Kabupaten Semarang, Senin (29/10/2018). (ANTARA FOTO)

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Neta S Panel Ketua Presidium Ind Police Watch menyatakan pasangan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno Salahuddin nomor urut 02 akan mengalami beberapa kerugian jika ngotot menghadiri Reuni 212 di Monas.

Hal ini diungkapkannya dalam keterangan tertulis yang diterima bukamata.co Sabtu (1/12/2018) menurutnya dari pantauan Indonesia Police Watch (IPW) hingga Sabtu pagi, Jakarta sangat kondusif dan pergerakan massa tidak semasif seperti Aksi 212 tahun lalu, dimana Ahok dianggap sebagai musuh bersama.

“Artinya, sikap antusias untuk mengikuti Reuni 212 Sabtu ini memudar total. Namun elit elit tertentu tetap bersikap bombastis dengan mengatakan reuni akan diikuti 1 juta orang, padahal dari pantauan IPW diperkirakan massa yang akan hadir tidak sampai 20.000” terangnya.

Loading...

Menurut Neta, dengan kondisi memudarnya antusias masyarakat ini IPW menilai, ada empat kerugian besar jika Prabowo-Sandi hadir dalam reuni tersebut.

“Pertama, dengan minimnya jumlah peserta reuni, kredibilitas Prabowo Sandi akan melorot karena dianggap tidak mampu mengumpulkan massa dan tidak punya pendukung maksimal” terangnya.

Kemudian lanjutnya lagi, jika unsur elit partai pendukung tidak hadir dalam reuni akan muncul kesan bahwa Prabowo Sandi sudah ditinggal elit partai pendukungnya.

Dan yang ketiga, jika Reuni 212 itu didominasi kalangan radikal, Prabowo akan dicap sebagai figur pemimpin radikal dan bukan mustahil para pendukungnya akan meninggalkannya atau takut memilihnya di Pilpres 2019.

“Keempat, jika terjadi kericuhan dalam acara Reuni 212, publik akan menuding, bagaimana Prabowo bisa memimpin negeri ini wong memimpin reuni saja ricuh. Untuk itu IPW berharap, Prabowo Sandi berpikir ulang untuk hadir dalam acara Reuni 212” urai Neta.

Karena menurutnya lagi, kasus Ratna Sarumpaet harus jadi pelajaran penting bagi Prabowo. Kasus Ratna katanya lagi, menunjukkan betapa lemahnya tim sukses dan tim intelijen Prabowo dalam menyikapi sebuah keadaan.

“Kasus Ratna juga menunjukkan betapa emosionalnya Prabowo dalam menanggapi sebuah isu dan situasi. Semua itu membuat pasangan Prabowo Sandi menjadi blunder, kedodoran dan terlihat tidak profesional” kata Neta.

Dituturkan Neta, terlepas dari semua itu, sebagai pasangan Capres Cawapres di Pilpres 2019, IPW justru berharap, Prabowo Sandi bisa menjadi pionir dalam menjaga keamanan dan situasi Jakarta yang kondusif.

“Figur jenderalnya harus identik sebagai figur pencipta keamanan. Jika Prabowo Sandi kembali bersikap blunder, salah perhitungan dan larut dalam belenggu elit-elit yang radikal, masyarakat akan takut memilihnya di Pilpres 2019” terang Neta

Apalagi lanjutnya cap sebagai figur “yang kalah” dan Orba masih menancap dalam figurnya. Prabowo Sandi memang harus cermat jika tidak mau kembali keok di Pilpres 2019.

Terakhir Neta juga menyampaikan apresiasinya kepada Polda Metro Jaya yang mengijinkan Reuni 212 di Monas, Jakarta.
“Pemberian ijin tersebut menunjukkan bahwa Polri melihat situasi Jakarta sangat kondusif dan tidak ada yang harus dikhawatirkan dan dicemaskan menjelang dan saat Reuni 212 berlangsung” tukasnya.

Editor Rikmal Hadi
Laporan Wilson PN

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here