Denny JA: Sejarah Merekam Kultur Politik Prabowo dan Pendukungnya

Denny JA.

BUKAMATA.CO – Denny Januar Ali atau yang lebih dikenal dengan Denny
JA, seorang konsultan politik dan tokoh media, membandingkan cara
kontestan Pemilihan Umum (Pemilu) dalam menerima kekalahan.

Denny mengingat masa Pemilu Presiden tahun 2009 yang lalu, Capres
Jusuf Kalla saat dikalahkan Capres SBY. Jusuf Kalla seketika
menelfon SBY mengucapkan selamat atas kemenangannya.

Namun hal yang berbeda ditunjukkan Capres Prabowo di Pemilu 2014,
waktu itu ia justru sujud syukur, mengklaim dan merayakan
kemenangannya.

Loading...

“Saat KPU resmi umumkan Jokowi menang, Capres Prabowo dan tim
mengklaim pemilu curang, hal yang ternyata kembali terjadi di
Pemilu 2019 ini,” kata Denny dalam tulisannya di media sosial.

Denny kemudian mengingat sejarah Amerika Serikat tentang George
Washington. Ia salah satu the founding fathers berdirinya Amerika
Serikat, dan tradisi kultur politik demokrasi di sana. George
Washington terpilih menjadi presiden pertama tak hanya di Amerika
Serikat, ia juga presiden pertama di dunia. Ketika akan dipilih
ketiga kali, George Washington menolak. Ia ingin kekuasaan juga
ditampuk oleh orang lain.

Karena itu, lanjut Denny, hingga kini sejarah menulis George
Washington sebagai satu dari tiga presiden terbesar Amerika Serikat
yang diagungkan oleh rakyat sebab kultur politik yang ia
kembangkan.

Publik Amerika Serikat juga menghormati capres John McCain untuk
alasan yang berbeda. Di tahun 2008, John McCain menjadi capres
partai Republik, bersaing dengan Barrack Obama.

Ketika ia berkampanye keliling Amerika Serikat, dalam satu momen,
pendukungnya berbicara buruk soal Obama yang mengarah pada rasisme.

“Saya tak percaya Obama. Ia orang Arab,” kata pendukung McCain
waktu itu.

Mendengar itu, McCain merebut microphone dari wanita itu dan
berkata bahwa Obama adalah orang baik dan kepala keluarga yang
bertanggung jawab.

“Saya berbeda dengannya hanya untuk beberapa kebijakan fundamental.
Itulah inti kampanye kita. Obama bukan orang Arab. Terima kasih,”
tegas McCain.

McCain tak ingin mengambil keuntungan politik dari sentimen negatif
atas lawan politik. Baginya, Pilpres tak hanya soal menang dan
kalah. Ada yang lebih besar. Pilpres harus menjadi momen yang
memperkuat kultur politik positif, yang demokratis, yang
bermartabat.

McCain dikalahkan dalam pilpres itu. Tapi kultur politik yang ia
kembangkan bahkan menjadi legenda.

Denny kemudian membandingkannya dengan kultur politik elit di
Indonesia pasca Pemilu 2019. Kemenangan Jokowi ditolak mentah-
mentah oleh tim Prabowo, dan berkata akan memunculkan aksi protes
people power.

“Amien Rais yang merupakan Dewan Pembina BPN, tim pemenangan
Prabowo, bahkan awalnya menolak menggunakan jalur Mahkamah
Konstitusi untuk memproses tuduhan kecurangan,” sebut Denny.

Aksi protes meluas di kalangan pendukung Prabowo, yang sayangnya
tak hanya berekspresi dengan damai, tapi masuk pula penumpang gelap
dengan agenda politik kerusuhan. Jakarta berubah menjadi kota yang
mencekam pada tanggal 21 dan 22 Mei, ratusan orang terluka, 6 orang
tewas.

Tak hanya itu, asrama polisi diserang, mobil-mobil sipil dan bus
polisi dibakar. Perusuh melempari polisi tak hanya dengan batu,
tapi juga dengan bom molotov.

Setelah polisi melakukan penyelidikan. diketahui massa perusuh yang
menolak hasil KPU datang dari wilayah lain. Ada yang menjadi
donatur, perusuh diberi uang, diarahkan dari komunikasi handphone.
Jelas mereka bukan aksi spontan.

Kini polisi menahan 257 orang tersangka kerusuhan yang pola
gerakannya berhasil dibaca polisi.

Denny mengingatkan saat ini adalah bulan suci Ramadhan, ada
baiknya, semua elit merenung untuk memikirkan kultur politik apa
yang ingin mereka wariskan untuk negeri.

“Kultur politik bagaimanakah yang ingin diajarkan Prabowo pada
negeri Indonesia? Apakah ada gagasan besar dibalik sikapnya yang
tak hanya menolak mengakui hasil KPU bahwa ia kalah?” kata Denny.

Denny menegaskan bahwa sejarah tak pernah tidur. Sejarah merekam
semua, baik yang ditulis dengan tinta emas atau pun dengan aroma
kegelapan.

Editor Rinai BK

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here