Kata Kepala BNPB, Abaikan Asap Karhutla Sama Dengan Pembunuh Potensial

Kepala BNPB, Doni Monardo (tengah) saat meninjau pemadaman Karhutla di Riau
Kepala BNPB, Doni Monardo (tengah) saat meninjau pemadaman Karhutla di Riau

BUKAMATA.CO, PEKANBARU – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provinsi Riau menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo belum ada tindakan nyata dari Kepala Daerah. Sampai sejauh masih sebatas sloganistik dengan kata-kata “Riau Tanpa Asap” namun hingga kini Karhutla tak teratasi.

Untuk itu, dia meminta para kepala daerah di Provinsi Riau untuk serius menanggulangi Karhutla ini. Dia ingin ada tindakan nyata yang dilakukan.

Karena kata Doni yang saat ini berada di Riau bersama Panglima TNI dan Kapolri, asap yang diakibatkan karhutla di Riau sudah membuat kualitas udara masuk kategori berbahaya, khususnya di wilayah Pekanbaru.

Loading...

“Saya tidak ingin hanya slogan-slogan. Dulu saya senang dengan pernyataan Riau Tanpa Asap. Tapi apa, hari ini Riau penuh asap,” ujar Doni dalam Rapat Koordinasi (rakor) Penanggulangan dan Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Riau bersama Gubernur Riau, Kapolda Riau, Kepala BPBD, hingga walikota dan bupati se-Provinsi Riau melalui siaran persnya.

Dan kata dia lagi, asap akibat karhutla adalah pembunuh yang tidak dapat diketahui secara langsung. Mengabaikan asap karhutla, lanjutnya, sama saja menjadi pembunuh potensial.

Menurut dia semua elemen masyarakat turut berperan untuk menanggulangi bahaya asap karhutla. Sinergi harus terus dilakukan, dari pencegahan hingga penanggulangan.

“Boleh jadi nanti kalau anda sekalian bisa, (menanggulangi karhutla) maka semuanya bisa jadi pahlawan kemanusiaan. Jika tidak bisa, kita adalah pembunuh potensial,” tegas Doni.

Dalam catatan BNPB, per hari Sabtu (14/9), indeks standar pencemar udara (ISPU) tertinggi di wilayah Pekanbaru 269, Dumai 170, Rohan Hilir 141, Siak 125, Bengkalis 121, dan Kampar 113.

Kualitas udara yang diukur dengan ISPU memiliki kategori baik (0 – 50), sedang (51 – 100), tidak sehat (101 – 199), sangat tidak sehat (200 – 299), dan berbahaya (lebih dari 300).

Dengan demikian, kualitas udara di Riau masih tergolong tidak sehat hingga sangat tidak sehat. “Data juga menunjukkan kualitas udara di provinsi lain, seperti Jambi (123), Kepulauan Riau (89), Sumatera Selatan (51), Sumatera Barat (46) dan Aceh (14),” ucap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas (Pusdatinmas) BNPB Agus Wibowo.

Agus mengatakan upaya pemadaman karhutla di Riau masih terus dilakukan. Termasuk pada hari ini, Minggu (15/9/2019).

“Untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan tersebut tersebut disiagakan personil sebanyak 5.809,” kata Agus melalui siaran pers, Minggu (15/9).

Jumlah tersebut berasal dari Korem 031/WB 2.200 orang, Lanud Roesmin Nurjadin 117 orang, Polda Riau 2.200 orang, Pangkalan TNI AL Dumai 31 orang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) 300 orang.

Kemudian, Pemadam Kebakaran 200 orang, Polisi Kehutanan 109 orang, Manggala Agni 210 orang, Masyarakat Peduli Api 292 orang, dan dari sejumlah perusahaan sebanyak 150 orang.

Selain itu, 6 helikopter untuk water bombing juga dikerahkan. BNPB juga tengah menyiapkan tambahan pesawat Hercules pada Senin mendatang (16/9). Pesawat itu nantinya akan digunakan untuk operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

“Penambahan pesawat TMC ini karena prediksi BMKG akan ada pertumbuhan awan potensial dibuat hujan buat dalam beberapa hari ke depan,” pungkasnya.

Laporan Wilson
Editor Ady Kuswanto

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here