Kata MUI, Perubahan UU Perkawinan Bisa Timbulkan Polemik Baru

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Adanya perubahan UU tentang batas usia perkawaninan yang dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) akan menimbulkan polemik baru.
Zainut Tauhid Saadi , Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (ANTARA FOTO)

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Adanya perubahan UU tentang batas usia perkawinan yang dikabulkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) akan menimbulkan polemik baru.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid Saadi di Jakarta, Jumat (14/12/2018) dilansir oleh Antara News.

“Putusan ini berpotensi menimbulkan polemik karena menyangkut hal yang sangat sensitif,” kata Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Zainut Tauhid.

Loading...

Dikatakan Zainut, MUI akan membentuk sebuah tim yang akan melakukan penelitian dan pengkajian terhadap putusan tersebut dan pada saatnya nanti MUI akan memberikan pendapat dan pandangan secara konprehensif.

Dia mengingatkan kepada semua pihak bahwa UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bagi umat Islam bukan hanya sekadar mengatur norma hukum positif dalam perkawinan tetapi juga mengatur sah dan tidaknya sebuah pernikahan menurut ajaran agama Islam.

Kata Zainut, UU tersebut, memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan ikatan emosional dengan umat Islam.

“Sehingga kami mengimbau kepada semua pihak untuk bersikap arif dan berhati-hati jika berniat untuk mengubahnya,” kata dia.

Zainut mengaku khawatir meskipun putusan MK mengamanatkan untuk melakukan perubahan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan diserahkan melalui mekanisme pembahasan di DPR paling lambat tiga tahun sejak putusan diketok itu hanya dibatasi terhadap pasal 7 ayat (1) saja.

Namun pada praktiknya, kata dia, begitu masuk menjadi Program Legislasi Nasional (Prolegnas) dan diusulkan dalam bentuk Rancangan Undang-undang (RUU), DPR bisa saja membuka ruang untuk mengubah dan membongkar pasal-pasal lainnya.

“Jika hal itu terjadi berarti putusan MK hanya dijadikan pintu masuk untuk mengamandemen UU No 1 Tahun 1974 secara keseluruhan,” katanya.

Menurut dia, MUI berpandangan bahwa UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan meskipun usianya sudah cukup tua tetapi masih relevan untuk tetap diberlakukan sehingga tidak perlu ada revisi atau perubahan.

Editor Rikmal Hadi
sumber antaranews.com

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here