Putusan MK Kabulkan Batas Usia Perkawinan, Kata KPAI Langkah Positif Tingkatkan Indeks SDM Indonesia

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Dr Susanto Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) meminta agar dalam seleksi penerimaan CPNS 2018 fokus memonitor pelamar yang terindikasi dan rentan dalam kejahatan seksual dan bandar Narkoba.
Dr Susanto Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia

BUKAMATA.CO, JAKARTA – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengapresiasi Mahkamah Konstitusi yang telah mengabulkan untuk mengubah batas usia perkawinan bagi perempuan yaitu 16 tahun. Mahkamah Konstitusi memerintahkan Pemerintah dan DPR dalam waktu 3 tahun untuk mengubah batas usia perkawinan ini. Hal ini menunjukkan keseriusan negara dalam menghapus perkawinan usia anak.

“Batas usia perkawinan anak perempuan yang tercantum dalam UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 khususnya pasal 7 ayat 1 yaitu “Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam belas) tahun”. Usia 16 tahun ini bertentangan dengan UU No 35 tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak” papar Susanto Ketua KPAI melalui keterangan pers yang diterima bukamata.co Kamis (13/12/2018),

Kemudian diterangkan Susanto, pada Pasal 26 bahwa orangtua wajib mencegah terjadinya perkawinan usia anak. Padahal katanya lagi dalam UU Perlindungan Anak, usia anak adalah seseorang belum berusia 18 tahun termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Loading...

Menurut Susanto, perkawinan usia anak menjadi salah satu problem yang akan berdampak jangka panjang bagi sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang.

“Tahun 2015 menunjukkan bahwa 23% perempuan berusia 20-24 tahun melakukan perkawinan pertama sebelum usia 18 tahun. Umumnya anak yang menikah usia anak, pendidikannya rendah bahkan putus sekolah” kata dia.

Hal ini katanya dia lagi, rentan menyebabkan dampak jangka panjang bagi keluarganya dan berpotensi menyebabkan kemiskinan yang berulang.

Di sisi lain lanjut Susanto, menikah usia dini berpotensi meningkatkan jumlah angka kematian ibu dan Balita. Lebih jauh lagi, perkawinan anak juga berdampak pada kualitas keluarga, padahal mereka akan mengasuh anak di kemudian hari.

“Dengan demikian, perkawinan usia anak akan berdampak terhadap performa indeks kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang” ujarnya.

Maka, menurut Susanto, putusan MK merupakan langkah positif untuk meningkatkan indeks sumberdaya manusia Indonesia ke depan, karena denga putusan tersebut akan memberikan ruang bagi perempuan menempuh pendidikan 12 tahun, meningkatkan skill dan akan semakin matang baik aspek biologis maupun psikis.

Ke depan, kata Susanto, KPAI akan mengawal penguatan pendidikan orang tua sebagai penanggungjawab utama perlindungan anak agar tidak mengawinkan pada usia anak. Selain itu memperpanjang wajib belajar hingga 12 tahun, membangun budaya masyarakat untuk mencegah terjadinya perkawinan usia anak, serta sosialisasi di kalangan agamawan dan anak-anak menjadi sangat penting.

“KPAI akan mengawal proses perubahan regulasi ini baik di DPR maupun Pemerintah sekaligus menjadi momentum mendorong harmonisasi usia anak dalam aturan perundang-undangan lainnya” tutupnya.

Editor Rikmal Hadi
Laporan Bambang S

Loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here