Ada Apa Dibalik Pencopotan Dirut PT Pertamina?

BUKAMATA.CO, JAKARTA - Elia Massa Manik dicopot jabatannya selaku direktur utama PT Pertamina oleh Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pencopotan ini berdasarkan hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS LB) PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Jumat (20/4/2018) dengan agenda melakukan restrukturisasi jabatan penting di BUMN tersebut.
Elia Massa Manik mantan Dirut PT Pertamina yang dicopot

Baru 13 bulan bekerja Elia Massa Manik sudah dicopot sebagai Dirut Pertamina. Saat menjabat Elia Massa Manik merombak struktur Pertamina dan mengisi dengan para pejabat yang berkompeten

Praktis tidak ada prestasi Rini Soemarno selain mencopot para dirut Pertamina, lantas kenapa Rini begitu mudah memecat dirut Pertamina, kenapa Pertamina saja? tidak BUMN yang lainnya?

Pertamina telah menjadi sapi perah para pejabat dan makelar yang menarik uang APBN untuk kepentingan pribadi dan golongannya sendiri. Pertamina terlalu seksi jika dibiarkan sendiri.

Loading...

Sejak Petral dibubarkan Pertamina hemat Rp 6,9 triliun. Lalu selama ada Petral uang sebesar itu lari kemana? Siapa yang menikmatinya? Inilah kenapa Pertamina selalu “seksi”

Minyak adalah urat nadi segalanya, tanpa bahan bakar tak akan ada denyut kehidupan ekonomi, semua akan lumpuh. BBM telah menjadi candu kehidupan modern yang olehnya kita seolah kembali ke zaman batu.

Kekosongan Petral ini merupakan peluang baru bagi calon mafia lain untuk menikmati uang triliunan rupiah tanpa berkeringat, disinilah tujuan dan kerja sebenarnya dari Rini Soemarno.

Kita lihat dulu siapakah Rini dan jaringannya untuk menguasai emas hitam Pertamina. Rini tak bisa lepas dari kaitannya dari Ari Soemarno mantan dirut Pertamina dan Sudirman Said mantan menteri ESDM

Ari Soemarno mendirikan ISC (Integrated Supply Chain) tahun 2008 saat masih menjabat sebagai dirut Pertamina. Apa tujuan ISC? Tidak lain untuk mengatur ekspor-impor BBM

Kuku klan Soemarno mulai mencengkram bisnis migas saat The Soemarno’s terlibat dalam pengagalan pasangan Megawati-JK saat akan maju pada Pemilu 2004. Akhirnya Mega menggandeng Hasyim Muzadi

Mega-Hasyim bukan lawan tanding bagi SBY-JK yang akhirnya memenangkan Pemilu 2004. Disitulah awal makin dekatnya Ari Soemarno dan JK. Menjadi pertanyaan kenapa Mega-Hasyim harus kalah?

Ini tidak lepas dari titipan Abang Sam alias Amerika Serikat. Rini Soemarno adalah kelahiran Maryland,Amerika Serikat. UU negara itu menyebut yang lahir di AS adalah otomatis warga AS.

Rini menyelesaikan pendidikan SMA hingga kuliah di negeri Paman Sam tersebut. Saat kembali ke tanah air berkiprah di berbagai perusahaan rupanya Rini tidak melupakan tanah kelahirannya

Kebijakan Megawati saat berkuasa yang terkesan sulit diatur oleh AS membuat negara itu gerah, ditambah Mega dengan para pemimpin negara-negara seperti Tiongkok, Rusia dan Korea Utara membuat AS semakin kepanasan

Megawati keras menolak ajakan Presiden Bush untuk mendukung serangan ke Irak. Dan Mega juga menolak permintaan ekstradisi Ustad Baasyir pemmpin kelompok Jemaah Islamiyah

Megawati juga menolak perdagangan bebas yang salah satunya digagaskan oleh Amerika. Akibatnya Mega dianggap duri. SBY yang mengaku AS sebagai tanah air keduanya akhirnya melenggang menjadi RI1

Kekuatan Mega berkurang saat JK batal merapat ke Mega. Ini terjadi akibat peranan dari Ari Soemarno yang meyakinkan JK agar merapat ke SBY.

Imbalan yang diterima Ari Soemarno sebagai comblang JK adakah jabatan Dirut Pertamina yang diembannya pada tahun 2006 setelah puluhan tahun berkarir di perusahaan plat merah tersebut

Sebelum menjadi dirut, Ari Soemarno sempat menjabat sebagai direktur Petral, perusahaan makelar pengimpor minyak ke Indonesia dengan fee luar biasa. Petral untung triliunan tanpa mengerluarkan tenaga

Disitu Ari Soemarno menajamkan insting mafianya setelah merasakan renyahnya duit minyak yang didapat hanya dengan menandatangani surat impor bernilai triliunan, tanpa lelah nego karena harga telah ditetapkan para cukong

Setelah menjadi dirut Ari Soemarno menyadari bahwa Petral akan menjadi sasaran tembak, maka dibentukan ISC (Integrated Supply Chain) yang fungsinya sama dengan Petral

Ari Soemarno membentuk ISC tahun 2008, dua tahun setelah mejabat sebagai Dirut Pertamina. ISC dibentuk dengan alasan mengendalikan Petral, faktanya ISC juga mengimpor minyak diluar Petral

Secara perlahan Ari ingin membuat ISC sebagai super body importir minyak. Sebagai Dirut Pertamina harusnya Ari tahu bahwa Pertamina dapat mengimpor minyak secara langsung tanpa makelar

Bukannya bubarkan Petral, Ari justru memperkuat ISC yang menggabungkan fungsi pengadaan dan pemasaran serta niaga minyak. Kewenangan yang sungguh besar yang sebenarya dapat dijalankan Pertamina sendiri

Pembentukan ISC ini juga dilakukan atas saran Konsultan McKinsey, dan Ari memberi fee sebesar Rp, 1 triliun pada lembaga konsultan tersebut, tak jelas alasan Ari menunjuk dan membayar konsultan semahal itu.

Kerakusan Ari mengimpor minyak memuncak saat dia memutuskan untuk menyewa tujuh tanker untuk mengangkut BBM sebesar 80 ribu barel dengan alasan menjaga pasokan untuk Lebaran

Selain bermain impor minyak, Ari Soemarno juga terlibat dalam permainan penjualan kondensat. Sebagai Dirut Pertamina Ari terlibat perencanaan penjualan kondensat ke PT TPPI yang merugikan negara sebesar Rp 6 Triliun

Ari juga terlibat kasus salah kirim jenis minya oleh Glencore, dimana perusahaan tersebut mengirim jenis crude oil yang tidak dapat diolah olehj kilang minyak di tanah air

Permainan “salah” impor ini terjadi setelah Ari tidak lagi menjabat namun dilakukan oleh anteknya Ari. Jenis yang diimpor adalah Mesla jenis ringan sebesar 70%, padahal kilang Balikpapan tak dapat memprosesnya

Dirut Pertamina Dwi Sutjipto menolak campur tangan Ari, disinilah Dwi Sutjipto ditendang oleh Rini Soemarno. Padahal dibawah Dwi Sutjipto Pertamina membukukan keuntungan US$ 2,5 miliar diatas Petronas US$ 1,6 miliar

Ari Soemarno juga terlilbat skandal Zatapi yakni impor minyak oplosan Australia dan Sudan, yang dibeli dari Malaysia. Audit BPK menunjukkan harga pembelian minyak tersebut lebih mahal dari harga standar

Ari Soemarno tentu bekerja dengan para anteknya. Sang adik Rini Soemarno tentu tak bisa sendirian. Salah satunya antek Ari adalah Sudirman Said mantan menteri ESDM.

Sudirman Said menduduki jabatan Vice President ISC, sebelum akhirnya dipecat oleh Karen Agustiawan. Saat menjabat sebagai VC ISC Sudirman Said membuat kontrak impor dengan Libya tanpa tender.

Kasus impor minyak Libya yang dinilai merugikan Pertamina ini menjadi pemicu pemecatan Sudirman Said sebagai VP PT ISC. Dengan topeng “anti korupsi” Sudirman Said lolos dari jeratan hukum

Saat kembali berkuasa, Rini Soemarno tentu tidak akan membiarkan Pertamina yang pernah dipimpin oleh kakaknya Ari Soemarno berjalan dengan tenang.

Pemilihan dan gonta-ganti dirut Pertamina saat ini tidak bisa lepas dari apa yang terjadi di masa lalu. Ari Soemarno sang kakak, tentu ikut menentukan permainan disaat sang adik Rini memegang kekuasaan

Disaat transisi kekuasaan ke Jokowi-JK tahun 2014 lalu, secara sepihak Rini menunjuk Ari Soemarno sebagai ketua pojka anti mafia migas, usulan ini kemudian ditolak oleh Jokowi.

Rini rupanya tak kehabisan akal, sejak bubarnya Petral, lembaga ISC yang dibentuk Ari Soemarno berperan sebagai “Petral baru” yakni makelar impor minyak.

Apa tujuan dari “gonjang-ganjing” pimpinan tertinggi perusahaan migas Indonesia ini? Tentu ada arah yang ingin dicapai oleh trio Ari-Rini-Sudirman. Ujungnya adalah kendali penuh atas Pertamina dan meraih keuntungan besar melalui ISC

Selain ISC yang akan meraup untung, tapi Rini juga berkepentingan untuk memasukan pihak asing ke perusahaan minyak plat merah tersebut, dengan demikian RIni akan mendapatkan double fee.

Untuk mewujudkan niatnya, Rini Soemarno memakai orang-orangnya di berbagai tempat. Salah satunya adalah Ahmad Bambang mantan Wadirut Pertamina yang tersingkir.

Rini juga melobi kejaksaan untuk menghentikan proses hukum atas pengadaan kapal kegiatan lepas pantai yang meibatkan Ahmad Bambang. Dengan tersingkirnya Elia Massa, besar peluang Ahmad Bambang kembali ke Pertamina

Kasus yang melibatkan Ahmad Bambang ini merugikan negara sekitar Rp.35 miliar. Rini juga melobi Setneg untuk menggolkan Ahmad Bambang kembali ke Pertamina.

Ahmad Bambang yang tidak berkompeten akan ditempatkan kembali di Pertamina untuk memperlemah dan membuat salah satu BUMN terbesar itu kolaps.

Kolapsnya Pertamina ini membuka peluang bagi pihak asing yakni Shell dan pihak Rothschild, jaringan penguasa moneter dan tambang dunia. Itu agenda pertama mereka, ada agenda lain yang tersembunyi

Rini menyingkirkan dirut Dwi Sutjipto dengan membuat matahari kembar yakni membesarkan kewenangan Ahmad Bambang, jadi kondisi ini memang diciptakan Rini untuk secara perlahan memperlemah Pertamina

Elia Massa Manik adalah korban selanjutnya dari jaringan kakak adik Ari dan Rini Soemarno. Mereka menggunakan beragam cara untuk menjatuhkan Elia Manik dari kekuasaanya sebagai dirut

Informasi internal Pertamina menyebutkan alasan pencopotan Elia Manik adalah karena menggagalkan proyek refinery Ari Soemarno dan sebuah proyek milik JK di Kalimantan

Agar terkesan kegagalan Elia Manik adalah karena kinerja, maka tim Ari Soemarno di Majalah Tempo bergerak dan membuat HL soal kebocoran pipa minyak di Balikpapan Kaltim

Tempo masuk dalam jaringan Ari Soemarno melalui Sudirman Said, mereka juga menguasai KPK sehingga Tempo dan KPK menjadi duet maut untuk menyerang lawan yang hendak dijatuhkan.

Tidak hanya itu, jarigan Sudirman Said juga “merekrut” Najwa Shihab melalui iparnya Ahmad Fikri Assegaf. Najwa nekat mewawancarai Novel Baswedan meski itu tidak direstui, ini yang menyebabkan Najwa keluar dari MetroTV

Soal kebocoran pipa minyak itu juga patut dicurigai karena kebocoran yang sebenarnya adalah karena jangkar dari kapal Tiongkok yang mengenai pipa minyak Pertamina, bukan karena pengawasan yang buruk

Agar lengkap maka berita soal kelangkaan premium terus dihembuskan sehingga yang muncul di publik adalah pencopotan terjadi karena kinerja Elia Manik yang dinilai kurang

Kinerja Elia Manik boleh dibilang cukup cemerlang. Program BBM satu harga semakin menyebar dan ini sesuai dengan program kerja Presiden Jokowi. Namun ini semua ditutupi dengan soal premium dan kebocoran pipa.

Inti terbesar dari keberhasilan Elia adalah kembali menjegal mafia minyak Ari Soemarno untuk kembali menguasai pertambangan khususnya industri migas. Tapi ini yang menjadi alasan Ari meminta Rini memecat Elia

Ari Soemarno tentu paham seluk beluk Pertamina, sehingga menjatuhkan dirut yang tak disukainya dapat mudah menggunakan alasan soal kelangkaan dan teknis perminyakan lainnya

Rini Soemarno adalah Menteri BUMN de jure, tapi de facto yang mengendalikan kementerian tersebut adalah sang kakak, Ari Soemarno. Pertamina dan PLN dibawah kekuasaan mereka berdua.

Pertamina dan PLN adalah dua perusahaan kunci kehidupan ekonomi karena tanpa BBM dan listrik maka semuanya akan lumpuh. Indonesia akan kembali ke zaman batu apabila dua perusahaan ini gagal bekerja dengan baik.

Disinilah Rini dan Ari berusaha mencengkram, tujuannya adalah kekuasaan dan pengaruhnya serta tentunya memegang sumber uang. Pemerintan akan menyiapkan biaya berapapun untuk menjaga jalannya dua perusahaan ini

Rini yang naik dengan cara licik yakni berpura-pura menjadi anak asuh Megawati. Dan menjadikan Megawati sebagai konsultan pribadi setelah usaha dan rumah tangga Rini berantakan

Megawati terperangkap drama Rini dan akhirnya mempercayakan peranan penting dalam tim pemenangan Jokowi dan akhirnya masuk ke kabinet Jokowi-JK

Peranan terselubung Rini di kabinet adalah menjaga jaringan mafia kakaknya Ari Soemarno dan diam-diam bersiap menjadi seorang Brutus kepada Jokowi.

Rini yang mengaku menempatkan banyak orang di kabinet tentu dapat berperan sebagai pembisik presiden, sehingga fakta kelicinan jaringan Ari dan Rini dapat ditutupi dengan data-data palsu

Jokowi tentu harus dilepaskan dari perangkap RIni sebelum 2019. Politis PDIP Efendi Simbolon terang-terangan menyebut Ari dan Rini sebagai mafia. Jokowi tentu punya perhitungan matang soal Rini

Hanya jebakan Rini harus diwaspadai dan tidak bisa sembarangan dilawan, apalagi bukan cuma Rini, sejumlah menteri diduga telah merasakan licinya uang mafia migas, jika Jokowi salah langkah maka ini akan semakin menjebak #Jokowi

Catatan hitam jaringan Ari dan Rini ini sudah jelas dan terang benderang. Saatnya #Jokowi mengambil tindakan. Pecat Rini dan tumpas mafia migas.(RILIS)

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here