Refleksi 90 Tahun Sumpah Pemuda, Anak Muda Milenial Pelopor Melawan Hoax

Agent Of Change melekat pada Pemuda, sebagai kaum yang memiliki visi kedepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Pemuda merupakan sokoguru perubahan selalu di akhiri dengan perubahan sejarah, Bangsa Indonesia telah mencatat dalam sejarah, tepatnya Pada Tahun 1928 merupakan momen kebangkitan Pemuda dari latar belakang yang berbeda-beda, baik pendidikan, suku serta ras masing-masing, yang menyatukan diri membangun doktrin persatuan dan kesatuan bagi negeri ini, agar pesan kemerdekaan lebih mudah di tangkap oleh massa rakyat dan hasilnya revolusi 1945 mengantarkan bangsa Indonesia pada gerbang kemerdekaan.
Martua Siadari, Penulis adalah Ketua DPD Repdem Sumut

Agent Of Change melekat pada Pemuda, sebagai kaum yang memiliki visi kedepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara. Pemuda merupakan sokoguru perubahan selalu di akhiri dengan perubahan sejarah, Bangsa Indonesia telah mencatat dalam sejarah, tepatnya Pada Tahun 1928 merupakan momen kebangkitan Pemuda dari latar belakang yang berbeda-beda, baik pendidikan, suku serta ras masing-masing, yang menyatukan diri membangun doktrin persatuan dan kesatuan bagi negeri ini, agar pesan kemerdekaan lebih mudah di tangkap oleh massa rakyat dan hasilnya revolusi 1945 mengantarkan bangsa Indonesia pada gerbang kemerdekaan.

Adapun visa yang dibangun pemuda pada saat itu bukan hanya vis penyatuan teritorial semata, melainkan penyatuan visi bahasa persatuan negeri yang lahir dari rasa cinta terhadap tanah air. Dorongan rasa cinta terhadap tanah air akhirnya memunculkan Istilah Ibu pertiwi supaya memberi kesadaran penuh pada pemuda bahwa ada ibu yang harus di hargai dan dijaga kehormatannya – selain ibu biologis – yakni Ibu pertiwi . Ibu Pertiwi merupakan bahasa filosofis dari Bumi, Air dan Udara teritori Indonesia yang dengannya kita berpijak, memperoleh manfaat dari berupa bahan makanan serta udara yang di hirup untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan manfaat yang luar biasa.

Melihat Realita sejarah tersebut, betapa kita disuguhkan visi dan semanagt Pemuda 1928 untuk penyatuan Indonesia sangat maju, di saat para elit negeri ini berjuang secara sektoral dan kedaerahan maka pemuda membangun visi penyatuan sehingga perlawanan mengusir penjajahan dapat di lakukan secaara massif dan terorganisir dan mampu membangkitkan kesadaran massa rakyat untuk berjuang dengan menegasikan sentimen perbedaan.

Loading...

Memasuki era digitalisasi yang lazim disebut sebagai era Milenial, maka pemuda memiliki tantangan tersendiri, digitalisasi merupakan Instrumen penting dalam arus-balik Informasi yang dampaknya dapat bernilai positif maupun negatif. Pemuda saat ini dihadapkan pada perubahan kiblat literasi dari literasi cetak berupa Koran, Majalah, Buku Tabloid dan lain2, menjadi literasi digital dengan flatform media Online yang serba instan di tambah lagi hubungan sosial di dunia maya berupa aplikasi media Sosial membawa warna sendiri bagi perkembangan pemuda saat ini.

Era Digitalisasi saat ini memungkinkan setiap orang dengan berbagai niat membangun Flatform media sendiri, dan disinilah awal turbalance bermula dimana media bukan hanya menjadi propaganda kebaikan akan tetapi jjuga dimanfaatkan untuk membangun propaganda yang negatif, kita miris dengan banyaknya pemuda yang salah langkah menjadi pelaku Terorisme dan mengaku belajar merakit Bom hanya dengan melihat tutorial di media Online.

Persoalan yang dihadapi saat ini tidak hanya sebatas itu saja, kemudian persoalan yang rumit dan pelik yang dihadapi saa ini adalah persoalan maraknya berita bohong (HOAX) dan ujaran-ujaran kebencian (SARA) di berbagai media Sosial , namun sayangnya pemuda saat ini belum dapat melakukan filterisasi berita dengan baik dan benar sehingga kebohongan sering kali dianggap sebagai kebenaran, dan nampaknya para pelaku penyebar hoax sangat faham dengan filosofi “Kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran” dan “Kejahatan yang terorganisir akan mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”. Permasalahan hoax ini sedikit demi sedikit mulai merusak cita-cita yang dicanangkan para pemuda bangsa tahun 1928, dan tampaknya masa kini adalah masa kemunduran kembali pemuda.

Akhirnya, Untuk menangkal akibat buruk dari berkembaangnya Hoax tersebut maka diperlukan kerja keras dari berbagai Pihak termasuk kita menginginkan Political will dari pemerintah untuk membuat regulasi yang dapat memberi rasa aman bagi Rakyat daari gempuran hoax yang berimbas pada perpecahan akibat hoax. Saya menganggap bahwa Pemerintah belum memiliki political will yang memadai untuk membuat payung hukum agar pengguna media Sosial dapat dikontrol dengan baik dan benar, mengingat saat ini Indonesia begitu mudahnya setiap orang membuat akun tanpa akses identitas asli sehingga mendorong pelaku-pelaku penyebar hoax dengan leluasa membuat akun palsu yang jumlahnya mungkin sudah Ribuan bahkan Jutaan.

Terakhir saya menghimbau kepada Para Pemuda agar memilki kesadaran menyaring setiap informasi di Medsos dengan membuat ukuran nilai dalam menerima dan menyebar Informasi, sebab saya mengamati seringkali informasi tidak dinilai dengan nilai kebaikan dan kebenaran melain di nilai dengan sentimen negatif semata sehingga penyebar hoax dengan mudah meracuni pemuda era milenial sekarang. Selamat Hari Pemuda tetaplah dalam semangat persatuan Indonesia di Bumi Ibu Pertiwi. ingat perpecahan bukan jalan kemajuan melainkan jalan menuju Kehancuran, Satu Bangsa, Satu Tanah Air, Satu Bahasa yaitu Indonesia dalam Rumah Besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Penulis adalah Ketua DPD Repdem Sumut

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here