Secercah Harap dari Tambora

Oleh: Kristin Samah

Beda banget cara Jokowi mengentaskan kemiskinan. Bukan dengan bagi-bagi duit gratis. Ini dia dampaknya.

JAKARTA (11/7/2018)—Ini kisah perjalanan setengah hari menyusuri sudut kampung di kawasan Tambora. Letaknya persis di belakang Season City Trademall.

Loading...

Tambora adalah wilayah paling padat di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Dan titik terpadat berada di Kelurahan Kalianyar. Di beberapa ruas gang di Kelurahan Kalianyar itulah saya bertemu cercah-cercah harapan baru.

Andryani tak ingin menyembunyikan kegembiraannya. Ia memperoleh pinjaman tanpa agunan Rp 2 juta untuk memulai usaha. Awalnya membuka counter pulsa di depan rumah. Sempat berhenti karena merugi.

Ia kembali buka usaha saat beberapa tetangganya mengajak membuat kelompok supaya bisa memperoleh kredit tanpa agunan.

Modal dua juta dibelanjakan berbagai kebutuhan dari gula, kopi, juga jajanan anak-anak. Ia masih menyediakan pulsa meskipun bukan yang utama.

Telinganya tajam mendengar kebutuhan masyarakat. Banyak tetangga yang anak-anaknya bersekolah, membutuhkan meterai untuk mengurus administrasi. Buru-buru ia pun menyediakan.

Keuntungan pun diraup.
Hasil kongsi dengan suaminya yang petugas keamanan di kantor pemerintah, keduanya bisa mencicil rumah di kawasan Tangerang. Kelak kalau rumah itu jadi akan dikontrakkan buat nambah biaya sekolah anaknya yang masih balita.

Beda lagi kisah Iis yang baru saja mendapat doorprize sepeda motor dari produk kopi kemasan. Ia tak pernah berusaha. Seizin suaminya, ia ambil kredit senilai Rp 2,5 juta.

Seluruh uang itu dibelanjakan dagangan. Sama dengan Andryani, ia meningkatkan sensitifitas telinganya untuk menangkap kebutuhan orang-orang di sekitar tempat ia tinggal.

Kalau pinjaman yang sedang berjalan sudah lunas, ia akan gunakan dana pinjaman berikutnya untuk membuka warung makan. Itu karena ia mendengar rumah di sebelah kontrakan tempat ia tinggal, akan dijadikan kos-kosan. Anak kos pasti butuh makan. Begitu ia merancang usaha berikutnya.

Hikmah dari kebijakan populis Jokowi. Pemerintah tidak membagi-bagi uang percuma tetapi diberikan dalam skema kredit usaha. Khusus yang dikelola Permodalan Nasional Madani (PNM), kredit mikro diberikan pada ibu-ibu rumah tangga. Jumlah pinjaman mulai dari Rp 2 juta tanpa agunan, dicicil tiap minggu. Nilai pinjaman bisa meningkat bila kinerjanya membaik.

Program yang diberi nama Mekaar—Membina Ekonomi Keluarga Sejahtera—itu mampu meningkatkan kualitas ekonomi keluarga. Jumlah mereka sudah mencapai 4 juta orang.

Beda banget cara mereka menghargai uang ketika dibagi-bagi begitu saja dengan bila diperoleh untuk usaha. Ini dia dampaknya. Mereka membangun mimpi-mimpi baru bagaimana membuat ekonomi keluarga menjadi lebih baik. Masih mau meracuni masyarakat dengan membagi-bagikan uang? Aku sih pantang ya. (***)

Laporan tersebut diatas merupakan opini penulis. Isi diluar tanggung jawab publisher

Loading...
BAGIKAN

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here